A.
JENIS JUAL BELI YANG DILARANG DALAM ISLAM
Transaksi jual beli merupakan kegiatan yang sudah lama
dikerjakan orang-orang sejak dahulu. Jual beli di dalam Islam (ekonomi syariah)
termasuk pada bagian muamalah, hal ini menjadikan setiap kegiatan transaksi jual
beli yang kita lakukan telah di atur oleh agama dan secara sistematis telah ada
aturan kebolehan dan rambu-rambu larangan pada setiap transaksi jual beli,
tujuannya ialah untuk menciptakan kemaslahatan dalam berbisnis dan
menghilangkan segala kemudharatan di dalamnya.firman Allah SWT,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا
تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ
تِجَارَةًعَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ
كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan
perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu...” (Q.S An-nisa
[4] : 29)
Hukum asal jual beli adalah mubah (boleh), sebagaimana
dijelaskan pada kaidah fiqh.
اْلأَصْلُ فِي الشُّرُوْطِ فِي
الْمُعَامَلاَتِ الْحِلُّ وَالْإِبَاحَةُ إِلاَّ بِدَلِيْلٍ
Artinya : “Hukum
asal semua bentuk muamalah adalah mubah (boleh), kecuali ada dalil yang
mengharamkannya (melarang)”
Berikut beberapa jenis jual beli yang dilarang di dalam
Islam :
1.
Jual beli barang yang belum diterima, seorang muslim tidak boleh membeli
suatu barang kemudian menjualnya padahal ia belum menerima barang dagangan
tersebut, karena dalil-dalil berikut: Sabda Rasulullah SAW, “ Jika engkau
membeli sesuatu, engkau jangan menjualnya hingga engkau menerimanya. “
(H. R. Tabrani). Sabda Rasulullah SAW, “ Barang siapa membeli makanan, ia
jangan menjualnya hingga menerimanya.” (H. R. Al Bukhari).
2.
Jual beli seorang muslim dari muslim lainnya, seorang muslim tidak boleh
jika saudara seagamanya telah membeli sesuatu barang seharga lima ribu rupiah
misalnya, kemudian ia berkatakepada penjualnya. “ Mintalah kembali barang itu,
dan batlkan jual belinya, karena aku akan membelinya darimu seharga enam ribu,
‘ karena Rasulullah SAW bersabda, “ janganlah sebagian dari kalian menjual
di atas jual beli sebagian lainya, “(H.R. Muttafun ‘alaih).
3.
Jual
beli najasy, seorang tidak boleh
menawar suatu barang dengan harga tertentu padahal ia tidak ingin membelinya,
namun ia berbuat seperti itu agar diikuti para penawar lainya kemudian pembeli
tertarik membeli barang tersebut. Seorang muslim juga tidak boleh berkata
kepada pembeli yang ingin membeli suatu barang,” Barang ini dibeli dengan harga
sekian”, ia berkata bohong untuk menipu pembeli tersebut, ia bersekongkol
dengan penjual atau tidak, karena Abdullah bin Umar Ra berkata, “Rasulullah
SAW melarang jual beli najasyi. “ Rasulullah SAW bersabda, “ Janganlah
kalian saling melakukan jual beli najasiyi.” (H.R. Muttafaqun ‘alaih).
4.
Jual
beli barang-barang haram dan najis,
seorang muslim tidak boleh menjual
barng-barang haram, barang-barang najis dan barang-barang yang menjurus kepada
haram. Jadi ia tidak boleh menjual minuman keras, babi, bagkai, berhala, dan
anggur yang hendak dijadikan minuman keras, karena dalil-dalil berikut: sabda
rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah mengharamkan jual beli minuman keras,
bangkai, babi, dan berhala. Rasulullah SAW bersabda: ‘”Barang siapa menahan
anggur pada hari-hari panen untuk ia jual kepada orang Yaudi, atau orang
kristen atau orang yang akan menjadikan sebagian minuman keras, sungguh ia
menceburkan diri ke neraka dengan jelas sekali. (H.R.Mutaffaqun ‘alaih
). Bukhori:
حَدَّ
ثَنَا مُحَمَّدُ بَنُ بَشَّا رٍ حَدَّ ثَنَا غُنْدَ رُ حَدَّ ثَنَا شُعْبَةُ عَنْ
مَنْ مَنْصُرٍ عَنْ أَ بِيِ ا لضُّحَى عَنْ مَسْرُ و قٍ عَنْ عَا ئِشَةَ رَ ضِيَ ا
للَّهُ عَنْهَا قَا لَتْ لَمَّا نَزَ لَتْ آ خِرُ ا لْبَقَرَ ةِ قَرَ أَ هُنَّ ا
لنَّبِيُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَلَيْهِمْ فِي ا لْمَسْجِدِ ثُمَّ
حَرَّ مَ ا لتَّجَا رَ ةَ فِي ا نَمْرِ
Dari Aisyah,
ia berkata: “Ketika turun akhir surat al-Baqarah, Nabi membacakanya pada
sahabat di masjid kemudian mengharamkan perdagangan khomer.”
(Mata
lain: Muslim 2985, Nasa’i 4586, Abi Daud 3086, Ahmad 23063) [1]
5. Jual beli gharar (ketidakjelasan).
6. Jual beli dua barang dalam satu akad, sorang muslim tidak
boleh melangsungkan dua jual beli dalam
satu akad, namun ia harus melangsungkan keduanya sendiri-sendiri , karena di
dalamnya terdapat ketidak jelasan yang membuat orang muslim lainya tersakiti
atau memakan hartanya dengan tidak benar.
7. Jual beli urbun (uang muka), seorang muslim tidak
boleh melakukan jual beli urbun, atau mengambil uang muka secara kontan,
karena diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW melarang jual beli urbun (Imam Malik dalam Al-Muwatha).
8. Menjual sesuatu yang tidak ada pada penjual, seorang
muslim tidak boleh menjual sesuatu yang tidak ada padanya atau sesuatu yang
belum dimilikinya, karena hal tersebut menyakiti pembeli yang tidak mendapatkan
barang yang dibelinya. Rasulullah SAW
bersabda: “ Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu. “
(H. R. Tarmiz)
9. Jual beli utang dengan utang,
seorang muslim tidak boleh menjual utang dengan
utang, karena itu menjual barang yang tidak ada dengan barang yang tidak ada
pula dan Islam tidak membolehkan jual beli seperti itu.
10. Jual beli inah, seorang muslim tidak boleh menjual
suatu barng kepada orang lain dengan kredit, kemudian ia membelinya lagi dari
pembeli dengan harga yang lebih murah.
11. Jual beli Musharah,
B.
BENTUK-BENTUK LARANGAN DALAM JUAL BELI :
1. Jual beli sah tapi terlarang
Beberapa jual
beli yang tidak diperbolehkan dalam agama, yang menjadi pokok sebab timbulnya
larangan jual beli ini adalah:
a)
Menyakiti
kepada si Penjual/Pembeli atau kepada orang lain.
Contoh : Membeli barang dengan
harga yang lebih mahal dari pada harga pasar, sedangkan dia tidak menginginkan
barang itu, tetapi semata-mata supaya orang lain tidak dapat membeli barang
itu.
b)
Membeli
suatu barang yang sudah dibeli orang lain yang masih dalam masa khiyar.
c)
Merusak
kepada ketentraman umum.
Contoh :
- Membeli
barang untuk ditahan agar dapat dijual
dengan harga yang lebih mahal,
- Menjual
suatu barang yang berguna, tetapi
kemudian dijadikan alat
maksiat oleh yang membelinya.
- Jual
beli yang didalamnya mengandung unsur penipuan dalam transaksi
d)
Menyempitkan
gerakan pemasaran.
Contoh : Mencegat orang-orang
yang datang dari desa luar kota, lalu membeli barangnya sebelum mereka sampai
ke pasar dan sewaktu mereka belum mengetahui harga pasar.
2.
Jual
beli yang terlarang
a. Terlarang sebab ahliah (ahli akad)
-
Jual
belinya orang buta
-
Jual
beli terpaksa
-
Jual
beli fudul (jual beli tanpa seizin pemiliknya)
-
Jual
beli yang terhalang.
-
Jual
beli malja’ (jual beli orang yang sedang bahaya).
b.
Terlarang
sebab sighat
1)
Jual
beli muatah
yaitu jual beli yang tidak memakai ijab
dan qobul. Sebagian besar Ulama’ sepekat bahwa jual beli ini tidak sah tapi
sebagian Ulama Syafi’iyah seperti Imam Nawawi membolehkan jual beli seperti ini
dikembaikan kepada kebiasaan.
2)
Jual
beli melalui surat atau melalui utusan
3)
Jual
beli dengan isyarat atau tulisan
4)
Jual
beli yang tidak ada di tempat akad
5)
Jual
beli tidak bersesuaian antara ijab dan qobul
6)
Jual
beli munjiz berdasarkan dengan suatu syarat atau yang ditangguhkan pada waktu
yang akan datang.
c.
Terlarang
sebab ma’qud alaih (barang yang dijual)
1)
Jual
beli benda yang tidak ada atau dikhawatirkan tidak ada
2)
Jual
beli yang tidak dapat diserahkan
3)
Jual
beli garar
4)
Jual
beli barang najis dan yang terkena najis
5)
Jual
beli air
6)
Jual
beli barang yang tidak jelas (majhul)
7)
Jual
beli barang yang tidak ada di tempat (gaib)
tidak dapat dilihat
8)
Jual
beli sesuatu yang belum dipegang
9)
Jual
beli buah-buahan atau tumbuhan
d.
Terlarang
sebab syara’
1)
Jual
beli riba
2)
Jual
beli dengan uang dari barang yang diharamkan
3)
Jual
beli barang dari hasil pencegatan barang
4)
Jual
beli waktu azan Jum’at
5)
Jual
beli anggur untuk dijadikan khamar
6)
Jual
beli induk tanpa anaknya yang masih kecil
7)
Jual
beli barang yang dibeli oleh orang lain
8)
Jual
beli memaki syarat[2]