HADIST TENTANG ETOS KERJA
A. Pengertian
Kewirausahaan dan Etos Kerja
Kewirausahaan secara bahasa, berasal dari kata wira dan usaha. Wira berarti
pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan
berwatak agung. Sedangkan Usaha
berarti perbuatan amal, bekerja, berbuat sesuatu. Jadi secara etimologi (asal
usul kata) wirausaha berarti pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu.Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wirausaha adalah orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk mengadakan produk baru, mengatur permodalan operasinya serta memasarkannya. Sedangkan pengertian kewirausahaan menurut Intruksi Presiden RI No. 4 Tahun 1995 : “ kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi, dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.”
Dari definisi diatas dapat diambil garis besar bahwa kewirausahaan adalah proses manusia untuk berinovasi dan berkreativitas dalam memahami peluang, mengorganisasi sumber – sumber, mengelola dan menjadikannya sebagai sebuah usaha yang mengahasilkan keuntungan atau nilai untuk jangka waktu yang lama.[1]
Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk beramal,
dalam arti bekerja, bahkan meraih prestasi. Ini dibuktikan dari arti kata Islam
itu sendiri yaitu ada tiga : keselamatan, kedamaian, kesejahteraan. Untuk
meraih kesejahteraan ini, Islam sangat mendorong umatnya untuk bekerja
sebaik-baiknya dengan meraih prestasi. Islam menekankan pemeluknya dalam
bekerja hendaknya melakukan dengan penuh gairah dan rajin tidak bekerja
seadanya. Kecermatan ini dalam Islam dikenal dengan istilah ihsan, dan ihsan
akan menjamin terwujudnya kerja yang berkualitas.
Etos kerja seorang muslim, dibentuk oleh iman yang
menjadi pandangan hidupnya, yang memberinya norma-norma dasar untuk membangun
dan membina muamalahnya. Seorang muslim dituntut oleh imannya untuk menjadi
orang yang bertaqwa dan bermoral amanah (jujur, adil, percaya diri, dan
terpercaya), berilmu (profesional dalam bidangnya), cakap, cerdas, cermat,
hemat, rajin, tekun, dan bertekad
bekerja sebaik mungkin untuk menghasilkan yang terbaik.[2]
Ada
beberapa ciri etos kerja muslim, antara lain adalah sebagai berikut [3]:
1. Al – Shalah
atau baik dan manfaat.
مَنْ عَمِلَ صَلِحًا مِّنْ ذَكَرٍاَوْاُنْثَى
وَهُوَمُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَوةً طَيِّبَةًۚوَلَنَجْزِيَنَّهُمْ
اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَاكَانُوْيَعْمَلُوْنَ
Artinya
: “ Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya
akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri
balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka
kerjakan.” (an – Nahl : 97)
2. Al – Itqan
atau kemantapan dan perfectness.
اِنَّ
اللّه يُحِبُّ أِذَاعَمَلَ أَحَدُكُمُ العَمَلَ أَنْ يُتْقِنَهُ
“
Sesungguhnya Allah sangat mencintai jika seseorang melakukan suatu pekerjaan
yang dilakukannya dengan itqan atau
sempurna (profesional).” (HR Thabarani)
3. Al – Ihsan
atau melakukan yang terbaik dan lebih baik lagi.
Kualitas ihsan memiliki
dua makna dan dua pesan :
a. Melakukan
yang terbaik dari yang dapat dilakukan. Pesan yang dikandung yaitu agar setiap
muslim memiliki komitmen terhadap dirinya untuk berbuat yang terbaik dalam
segala hal yang ia kerjakan, terutama untuk kepentingan umat.
b. Mempunyai
makna lebih baik dari prestasi atau kualitas pekerjaan sebelumnya. Pesan dari
makna tersebut adalah peningkatan yang terus menerus, seiring dengan
bertambahnya pengetahuan, pengalaman, waktu, dan sumber daya lainnya. Termasuk
peningkatan kuantitas dan kualitas dakwah.
4.
Al –
Mujahadah atau kerja keras dan optimal.
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْفِيْنَالَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya
: “ Dan orang-orang yang
berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan
kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta
orang-orang yang berbuat baik.” (al – Ankabuut : 69)
5. Tafanus
dan ta’awun atau berkompetisi dan tolong menolong.
Artinya
: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah,
dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu)
binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula)
mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia
dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu Telah menyelesaikan ibadah haji,
Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu
kaum Karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu
berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”
(al – Maidah : 2)
6. Mencermati
nilai waktu.
. B. Hadist - Hadist Tentang Bekerja Keras / Berwirausaha
Rasulullah SAW menganjurkan agar seseorang bekerja
dan berwirausaha agar dapat hidup mandiri, tanpa bergantung pada pemberian
orang lain. Orang yang meminta-minta tidak hanya akan sengsara di dunia tetapi
ketika hari kiamat kelak diwajahnya tidak ada sekerat dagingpun sebagaimana
sabda Rasulullah SAW.
عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْن أَبِيْ جَعْفَرٍ
قَالَ سَمِعْتُ حَمْزَةَ بْنَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَاللهِ
بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَمَ : مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَ لُ النَّاسَ حَتَّى يَأْ تِيَ يَوْمَ
الْقِيَا مَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ (روه البخري)
Artinya:”Dari
‘Abd Allah ibnAbi Ja’far katanya: Aku mendengar Hamzah ibn ‘Abd Allah ibn ‘Umar
berkata: Rasulullah SAW bersabda,”Tidaklah seseorang senantiasa meminta-minta
kepada orang lain hingga pada hari kiamat datang tanpa sekerat dagingpun
diwajahnya.” (HR. Al-Bukhari)
Rasulullah juga
menganjurkan agar umatnya rajin bekerja dan berwirausaha karena cara demikian
adalah yang terbaik bagi diri mereka, bahkan Nabi Dawud a.s., bekerja dan
memenusi kebutuhan hidupnya dari pekerjaan atau hasil buah tanganya,
sebagaimana dalam hadis:
عَنِ الْمِقْدَامِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ قَالَ : مَا أَكَلَ أَحَدٌ
طَعَا مًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَاْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَٳِنَّ نَبِيَّ
اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْ كُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
(رَوَاهُ الْبُخَا رِيُ)
Artinya: “Dari Miqdam r.a. dari Rasulullah SAW
ia bersabda “Tidaklah seseorang makan-makanan yang lebih baik daripada makan(HR. Al-Bukhari).
Para sahabat
Nabi merupakan orang-orang yang bekerja untuk diri mereka sendiri dan mereka
mempunyai etos kerja yang tinggi, sebagaimana telah dijelaskan oleh hadis
dibawah ini:
عَنْ عُرْوَةَ قَالَ
قَالَتْ عَا ئِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا كَانَ أَصْحَا بُ رَسُلِ اللهِ صَلَى
اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَمَ عُمَّا لَ أَنْفُسِهِمْ وَكَانَ يَكُونُ لَهُمْ
أَرْوَاحٌ........ (زواه الْبُخَاري)
Artinya:”Dari
‘Urwah, katanya: ‘Aisyah r.a. berkata,”para sahabat Rasulullah SAW adalah
pekerja untuk diri mereka sendiri dan mereka mempunyai etos kerja...” (HR.
Al-Bukhari).
C. Karakteristik
Wirausaha dan Tujuannya
a) Karakteristik
wirausahawan yang perlu dimiliki dan dikembangkan, antara lain sebagai berikut
:
1. Berwatak
luhur.
2. Kerja
keras dan disiplin.
3. Mandiri
dan realistis.
4. Prestatif
dan komitmen tinggi.
5. Berpikir
positif dab bertanggung jawab.
6. Dapat
mengendalikan emosi.
7. Tidak
ingkar janji, menepati janji dan waktu.
8. Belajar
dari pengalaman.
9. Memperhitungkan
risiko.
10. Merasakan
kebutuhan orang lain.
11. Bekerja
sama dengan orang lain.
12. Menghasilkan
sesuatu untuk orang lain.
13. Memberi
semangat orang lain.
14. Memberi
jalan keluar bagi setiap permasalahan.
Merencanakan sesuatu
sebelum bertindak
b) Tujuan
Kewirausahaan yaitu :
1. Meningkatkan
jumlah wirausaha yan berkualitas.
2. Mewujudkan
kemampuan dan kemantapan para wirausaha untuk mengahasilkan kemajuan dan
kesejahteraan masyarakat.
3. Membudayakan
semangat, sikap, perilaku dan kemampuan kewirausahaan dikalangan masyarakat
yang mampu, andal dan unggulan.
4. Menumbuh
kembangkan kesadaran dan orientasi kewirausahaan yang tangguh dan kuat terhada
masyarakat.[4]
Contoh
Kasus :
Kinerja
PNS di Indonesia
Mulai tanggal 3 Juli 2017 PNS/ASN harus kembali
masuk kantor dan melakukan tugas rutinnya melayani masyarakat. Berkaitan dengan
hal tersebut, pejabat di kementerian, Gubernur, Walikota, atau Kepala Unit
Pelaksana Teknis (UPT) melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk mengecek
kehadiran pegawai pada hari pertama pasca cuti bersama idul fitri. Ada instansi
yang semuanya pegawainya sudah masuk, tapi ada juga yang tidak masuk kantor
dengan berbagai alasan. Berdasarkan hasil sidak, jumlah pegawai yang hadir ada
yang sesuai dengan yang tercantum di daftar hadir, tetapi ada kalanya tidak
sesuai, karena kehadirannya dimanipulasi. Pasca sidak, biasanya menteri, kepala
daerah, para pimpinan unit kerja ditanya tentang sanksi apa yang diberikan
kepada para PNS/ASN yang tidak masuk kerja, jawaban mereka yang spontan kadang
tidak mengacu kepada Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin
PNS. Berkaitan dengan kinerja, sejatinya kinerja pasca idul fitri diharapkan
meningkat, karena sebulan penuh dilatih untuk disiplin melalui ibadah puasa.
Hal itu dapat terjadi jika orang yang berpuasa dapat menghayati dan menjiwai
puasa yang dilakukannya. Tidak hanya sebatas mengugurkan kewajiban. Dengan kata
lain, ibadah puasa yang dilakukannya menjadi sarana untuk meningkatkan atau
memperbaiki kualitas dirinya. Sebenarnya setiap PNS/ASN sudah memiliki kontrak
kinerja yang telah dibuat pada awal tahun. Oleh karena itu, hal tersebut
menjadi patokan baginya dalam melaksanakan tugas. Kontrak kinerja ditambah
dengan semangat hasil gemblengan selama sebulan puasa tentunya diharapkan akan
semakin meningkatkan kinerjanya. Reformasi birokrasi dan revolusi mental yang
saat ini dibangun di lingkungan birokrasi diharapkan semakin meningkatkan
kualitas pelayanan publik. Kesejahteraan PNS/ASN pun tidak dapat dipungkiri
sudah meningkat secara bertahap. Disamping mendapatkan gaji, juga mendapatkan
remunerasi, gaji ke-13, dan gaji ke-14. Oleh karena itu, tuntutan publik
terhadap pelayanan prima pun sangat wajar, karena pada dasarnya PNS/ASN digaji
dari uang rakyat. Di tengah segala kekurangannya, etos kerja PNS/ASN di
lingkungan instansi pemerintah saat ini secara umum bisa dikatakan mengalami
perbaikan, walau tentunya masih banyak yang harus ditingkatkan. Penegakkan
disiplin, pembinaan dari pimpinan, dan perbaikan mental para aparatnya itu
sendiri menjadi tonggak dalam peningkatan kinerja yang berimbas kepada
peningkatan kualitas pelayanan publik.[5]
Dari berita diatas, kami menyimpulkan bahwa etos
kerja PNS/ASN di beberapa daerah di Indonesia belum cukup baik atau belum
sesuai dengan yang diharapkan pemerintah mauapun masyarakat. Dengan memberi
gaji tambahan dan pendisiplinan atau pemberian sanksi terhadap mereka yang
melanggar dapat memperbaiki etos kerja PNS/ASN yang dianggap belum mencapai
target. Banyak hal yang menyebabkan kinerja PNS/ASN di Indonesia masih belum
sesuai harapan, salah satunya adalah kurang tegasnya pemimpin dalam mengambil
keputusan terhadap mereka yang melanggar. Pemberian sanksi yang tegas
diperlukan agar tidak ada kesalahan yang terulang oleh pihak lain. Selain
pemberian sanksi, bagi mereka yang memiliki kinerja bagus atau mampu
berprestasi dibidangnya hendaknya diberi sebuah penghargaan atau tambahan gaji
atau kenaikan pangkat agar dapat memotivasi pegawai lain agar bekerja lebih
giat.
[1]
Basrowi, Kewirausahaan Untuk Perguruan Tinggi, (Bogor:Ghalia
Indonesia, 2011), hal. 57
[2] Buchari Alma, dan Donni Juni
Priansa, Manajemen Bisnis Syariah, (Bandung: Alfabeta, 2009), hlm
:175-176
[3]
Didin Hafidhuddin dan
Hendri Tanjung, Manjemen Syariah dalam Praktik, (Jakarta : Gema Insani Press,
2003), hal. 40 - 41
[4]
Basrowi, Kewirausahaan Untuk Perguruan Tinggi, (Bogor
: Ghalia Indonesia, 2011), hal. 7
[5]
www.kompasiana.com
, diunduh pada tanggal 02 Oktober 2017 pukul 07.00
Tidak ada komentar:
Posting Komentar