Senin, 16 Oktober 2017

JENIS JUAL BELI YANG DILARANG DALAM ISLAM

A.    JENIS JUAL BELI YANG DILARANG DALAM ISLAM
Transaksi jual beli merupakan kegiatan yang sudah lama dikerjakan orang-orang sejak dahulu. Jual beli di dalam Islam (ekonomi syariah) termasuk pada bagian muamalah, hal ini menjadikan setiap kegiatan transaksi jual beli yang kita lakukan telah di atur oleh agama dan secara sistematis telah ada aturan kebolehan dan rambu-rambu larangan pada setiap transaksi jual beli, tujuannya ialah untuk menciptakan kemaslahatan dalam berbisnis dan menghilangkan segala kemudharatan di dalamnya.firman Allah SWT,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةًعَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu...” (Q.S An-nisa [4] : 29)
Hukum asal jual beli adalah mubah (boleh), sebagaimana dijelaskan pada kaidah fiqh.
اْلأَصْلُ فِي الشُّرُوْطِ فِي الْمُعَامَلاَتِ الْحِلُّ وَالْإِبَاحَةُ إِلاَّ بِدَلِيْلٍ
Artinya : “Hukum asal semua bentuk muamalah adalah mubah (boleh), kecuali ada dalil yang mengharamkannya (melarang)”
Berikut beberapa jenis jual beli yang dilarang di dalam Islam :
1.      Jual beli barang yang belum diterima, seorang muslim tidak boleh membeli suatu barang kemudian menjualnya padahal ia belum menerima barang dagangan tersebut, karena dalil-dalil berikut: Sabda Rasulullah SAW, “ Jika engkau membeli sesuatu, engkau jangan menjualnya hingga engkau menerimanya. (H. R. Tabrani). Sabda Rasulullah SAW, “ Barang siapa membeli makanan, ia jangan menjualnya hingga menerimanya.” (H. R. Al Bukhari).
2.      Jual beli seorang muslim dari muslim lainnya, seorang muslim tidak boleh jika saudara seagamanya telah membeli sesuatu barang seharga lima ribu rupiah misalnya, kemudian ia berkatakepada penjualnya. “ Mintalah kembali barang itu, dan batlkan jual belinya, karena aku akan membelinya darimu seharga enam ribu, ‘ karena Rasulullah SAW bersabda, “ janganlah sebagian dari kalian menjual di atas jual beli sebagian lainya, “(H.R. Muttafun ‘alaih).
3.      Jual beli najasy, seorang  tidak boleh menawar suatu barang dengan harga tertentu padahal ia tidak ingin membelinya, namun ia berbuat seperti itu agar diikuti para penawar lainya kemudian pembeli tertarik membeli barang tersebut. Seorang muslim juga tidak boleh berkata kepada pembeli yang ingin membeli suatu barang,” Barang ini dibeli dengan harga sekian”, ia berkata bohong untuk menipu pembeli tersebut, ia bersekongkol dengan penjual atau tidak, karena Abdullah bin Umar Ra berkata, “Rasulullah SAW melarang jual beli najasyi. “ Rasulullah SAW bersabda, “ Janganlah kalian saling melakukan jual beli najasiyi.” (H.R. Muttafaqun ‘alaih).
4.      Jual beli barang-barang haram dan najis,
seorang muslim tidak boleh menjual barng-barang haram, barang-barang najis dan barang-barang yang menjurus kepada haram. Jadi ia tidak boleh menjual minuman keras, babi, bagkai, berhala, dan anggur yang hendak dijadikan minuman keras, karena dalil-dalil berikut: sabda rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah mengharamkan jual beli minuman keras, bangkai, babi, dan berhala. Rasulullah SAW bersabda: ‘”Barang siapa menahan anggur pada hari-hari panen untuk ia jual kepada orang Yaudi, atau orang kristen atau orang yang akan menjadikan sebagian minuman keras, sungguh ia menceburkan diri ke neraka dengan jelas sekali. (H.R.Mutaffaqun ‘alaih ). Bukhori:
حَدَّ ثَنَا مُحَمَّدُ بَنُ بَشَّا رٍ حَدَّ ثَنَا غُنْدَ رُ حَدَّ ثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مَنْ مَنْصُرٍ عَنْ أَ بِيِ ا لضُّحَى عَنْ مَسْرُ و قٍ عَنْ عَا ئِشَةَ رَ ضِيَ ا للَّهُ عَنْهَا قَا لَتْ لَمَّا نَزَ لَتْ آ خِرُ ا لْبَقَرَ ةِ قَرَ أَ هُنَّ ا لنَّبِيُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَلَيْهِمْ فِي ا لْمَسْجِدِ ثُمَّ حَرَّ مَ ا لتَّجَا رَ ةَ فِي ا نَمْرِ
Dari Aisyah, ia berkata: “Ketika turun akhir surat al-Baqarah, Nabi membacakanya pada sahabat di masjid kemudian mengharamkan perdagangan khomer.”
(Mata lain: Muslim 2985, Nasa’i 4586, Abi Daud 3086, Ahmad 23063) [1]
5.      Jual beli gharar (ketidakjelasan).
6.      Jual beli dua barang dalam satu akad, sorang muslim tidak boleh melangsungkan dua jual beli  dalam satu akad, namun ia harus melangsungkan keduanya sendiri-sendiri , karena di dalamnya terdapat ketidak jelasan yang membuat orang muslim lainya tersakiti atau memakan hartanya dengan tidak benar.
7.      Jual beli urbun (uang muka), seorang muslim tidak boleh melakukan jual beli urbun, atau mengambil uang muka secara kontan, karena diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW melarang jual beli urbun  (Imam Malik dalam Al-Muwatha).
8.      Menjual sesuatu yang tidak ada pada penjual, seorang muslim tidak boleh menjual sesuatu yang tidak ada padanya atau sesuatu yang belum dimilikinya, karena hal tersebut menyakiti pembeli yang tidak mendapatkan barang yang dibelinya. Rasulullah SAW bersabda: “ Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu. “ (H. R. Tarmiz)
9.      Jual beli utang dengan utang,
seorang muslim tidak boleh menjual utang dengan utang, karena itu menjual barang yang tidak ada dengan barang yang tidak ada pula dan Islam tidak membolehkan jual beli seperti itu.
10.  Jual beli inah, seorang muslim tidak boleh menjual suatu barng kepada orang lain dengan kredit, kemudian ia membelinya lagi dari pembeli dengan harga yang lebih murah.
11.  Jual beli Musharah,


B.     BENTUK-BENTUK LARANGAN DALAM JUAL BELI :

1.      Jual beli sah tapi terlarang
Beberapa jual beli yang tidak diperbolehkan dalam agama, yang menjadi pokok sebab timbulnya larangan jual beli ini adalah:
a)      Menyakiti kepada si Penjual/Pembeli atau kepada orang lain.
Contoh : Membeli barang dengan harga yang lebih mahal dari pada harga pasar, sedangkan dia tidak menginginkan barang itu, tetapi semata-mata supaya orang lain tidak dapat membeli barang itu.
b)      Membeli suatu barang yang sudah dibeli orang lain yang masih dalam masa khiyar.
c)      Merusak kepada ketentraman umum.
 Contoh :
- Membeli barang untuk ditahan  agar dapat dijual dengan harga yang lebih mahal,
- Menjual suatu barang yang  berguna, tetapi kemudian dijadikan alat maksiat oleh yang membelinya.
- Jual beli yang didalamnya mengandung unsur penipuan dalam transaksi
d)     Menyempitkan gerakan pemasaran.
Contoh : Mencegat orang-orang yang datang dari desa luar kota, lalu membeli barangnya sebelum mereka sampai ke pasar dan sewaktu mereka belum mengetahui harga pasar.
2.      Jual beli yang terlarang
a.       Terlarang sebab ahliah (ahli akad)
-          Jual belinya orang buta
-          Jual beli terpaksa
-          Jual beli fudul (jual beli tanpa seizin pemiliknya)
-          Jual beli yang terhalang.
-          Jual beli malja’ (jual beli orang yang sedang bahaya).
b.      Terlarang sebab sighat
1)      Jual beli muatah
yaitu jual beli yang tidak memakai ijab dan qobul. Sebagian besar Ulama’ sepekat bahwa jual beli ini tidak sah tapi sebagian Ulama Syafi’iyah seperti Imam Nawawi membolehkan jual beli seperti ini dikembaikan kepada kebiasaan.
2)      Jual beli melalui surat atau melalui utusan
3)      Jual beli dengan isyarat atau tulisan
4)      Jual beli yang tidak ada di tempat akad
5)      Jual beli tidak bersesuaian antara ijab dan qobul
6)      Jual beli munjiz berdasarkan dengan suatu syarat atau yang ditangguhkan pada waktu yang akan datang.
c.       Terlarang sebab ma’qud alaih (barang yang dijual)
1)      Jual beli benda yang tidak ada atau dikhawatirkan tidak ada
2)      Jual beli yang tidak dapat diserahkan
3)      Jual beli garar
4)      Jual beli barang najis dan yang terkena najis
5)      Jual beli air
6)      Jual beli barang yang tidak jelas (majhul)
7)      Jual beli barang yang tidak ada di tempat (gaib)  tidak dapat dilihat
8)      Jual beli sesuatu yang belum dipegang
9)      Jual beli buah-buahan atau tumbuhan
d.      Terlarang sebab syara’
1)      Jual beli riba
2)      Jual beli dengan uang dari barang yang diharamkan
3)      Jual beli barang dari hasil pencegatan barang
4)      Jual beli waktu azan Jum’at
5)      Jual beli anggur untuk dijadikan khamar
6)      Jual beli induk tanpa anaknya yang masih kecil 
7)      Jual beli barang yang dibeli oleh orang lain
8)      Jual beli memaki syarat[2]



[1] Mardani, Ayat-ayat dan Hadis Ekonomi Syariah ( Jakarta: Rajawali pers, 2014), hal. 119-128
[2] Mukarromah S “Jual Beli Menurut Hukum Islam Dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen”Digilib.uinsby.ac.id diakses pada 3 Oktober 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JENIS JUAL BELI YANG DILARANG DALAM ISLAM

A.     JENIS JUAL BELI YANG DILARANG DALAM ISLAM Transaksi jual beli merupakan kegiatan yang sudah lama dikerjakan orang-orang se...